Kamis, 11 Juni 2009

Seni Menata Hati Dalam Bergaul

Seni Menata Hati Dalam Bergaul
(KH. Abdullah Gymnastiar)

Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh
keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan.
Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai
rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah.

1. AKU BUKAN ANCAMAN BAGIMU

Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih kalau
kita simak Rasulullah Saw. bersabda, "Muslim yang terbaik adalah muslim yang
muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya."
(HR.Bukhari)

a. Hindari penghinaan
Apapun yang bersifat merendahkan, ejekan, penghinaan dalam bentuk apapun
terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya,
jangan pernah dilakukan, karena tak ada masalah yang selesai dengan
penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit hati serta
rasa dendam.

b. Hindari ikut campur urusan pribadi
Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya
jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan
pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan
keberangan.

c. Hindari memotong pembicaraan
Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan
disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan
cara yag arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan
mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar
dan mengoreksi dengan cara yang terbak pada waktu yang tepat.

d. Hindari membandingkan
Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penampilan,
harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak
berharga, rendah atau merasa terhina.

e. Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya
Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula mencaci
kawannya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri
kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah
harus siap menjalani proses dan tahapan.

f. Hindari merusak kebahagiannya
Bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan
merusak kebahagiaanya. Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung
mendapatkan hadiah dari luar negeri, padahal kita tauh persis bahwa barang
tersebut buatan dalam negeri, maka kita tak perlu menyampaikannya, biarlah
dia berbahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut.

g. Jangan mengungkit masa lalu
Apalagi jika yang diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang
berusaha ditutupi. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang
sangat ingin disembunyikannya, termasuk diri kita, maka jangan pernah usil
untuk mengungkit dan membeberkannya, hal seperti ini sama dengan mengajak
bermusuhan.

h. Jangan mengambil haknya
Jangan pernah terpikir untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan
terhadap hak seseorang akan menimbulkan asa tidak suka dan perlawanan yang
tentu akan merusak hubungan.. Sepatutnya kita harus belajar menikmati hak
kita, agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain.

i. Hati-hati dengan kemarahan
Bila anda marah, maka waspadalah karena kemarahan yang tak terkendali
biasanya menghasilkan kata dan perilaku yang keji, yang sangat melukai, dan
tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan baik di lingkungan
manapun.Kita harus mulai berlatih mengendalikan kemarahan sekuat tenaga dan
tak usah sungkan untuk meminta maaf andai kata ucapan dirasakan berlebihan.

j. Jangan menertawakannya
Sebagian besar dari sikap menertawakan seseorang adalah karena
kekurangannnya, baik sikap, penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain
sebagainya, dan ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta
berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.

k. Hati-hati dengan penampilan, bau badan dan bau mulut
Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan atau mulut
kita, karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat orang
lain merasa terusik kenyamanannya, dan cenderung ingin menghindari kita.

2. AKU MENYENANGKAN BAGIMU

a. Wajah yang selalu cerah ceria
Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda,
"Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah
dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan
memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta". (Sunan Abu Dawud).

b. Senyum tulus
Rasulullah senantiasa tersenyum manis sekali dan ini sangat menyenangkan
bagi siapapun yang menatapnya. Senyum adalah sedekah,
senyuman yang tulus memiliki daya sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati
siapapun, senyum adalah nikmat Allah yang besar bagi manusia yang mencintai
kebaikan.
Senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong, angkuh, dan orang
yang busuk hati.

c. Kata-kata yang santun dan lembut
Pilihlah kata-kata yang paling sopan dengan dan sampaikan dengan cara yang
lembut, karena sikap seperti itulah yang dilakukan Rasulullah, ketika
berbincang dengan para sahabatnya, sehingga terbangun suasana yang
menyenangkan. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan,
mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan.

d. Senang menyapa dan mengucapkan salam
Upayakanlah kita selalu menjadi orang yang paling dahulu dalam menyapa dan
mengucapkan salam. Jabatlah tagan kawan kita penuh dengan kehangatan dan
lepaslah tangan sesudah dilepaskan oleh orang lain, karena demikianlah yang
dicontohkan Rasulullah. Jangan lupa untuk menjawab salam dengan sempurna
dan penuh perhatian.


e. Bersikap sangat sopan dan penuh penghormatan
Rasulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha
menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika
sahabatnya melucu, dan ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan hal
yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat diutamakan oleh
Rasulullah.

f. Senangkan perasaannya
Pujilah dengan tulus dan tepat terhadap sesuatu yang layak dipuji sambil
kita kaitkan dengan kebesaran Allah sehingga yang dipuji pun teringat akan
asal muasal nikmat yang diraihnya, nyatakan terima kasih dan do'akan. Hal
ini akan membuatnya merasa bahagia. Dan ingat jangan pernah kikir untuk
berterima kasih.

g. Penampilan yang menyenangkan
Gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Menggunakan pakaian yang
baik bukanlah tanda kesombongan, Allah Maha Indah dan menyukai keindahan,
tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Allah.

h. Maafkan kesalahannya
Jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan orang
lain kepada kita, karena hal ini akan membuat bahagia dan senang siapapun
yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita, dan tentu hal ini pun akan
mengangkat citra kita dihatinya.

3. AKU BERMANFAAT BAGIMU
Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari
nilai manfaat yang ada dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik diantara
manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi hamba-hamba Allah
lainnya.

a. Rajin bersilaturahmi
Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan
walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang mendalam,
apalagi jikalau membawa hadiah, insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang.

b. Saling berkirim hadiah
Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa saling memberi dan berkirim
hadiah akan menumbuhkan kasih sayang. Jangan pernah takut miskin dengan
memberikan sesuatu, karena Allah yang Maha Kaya telah menjanjikan ganjaran
dan jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus.

c. Tolong dengan apapun
Bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, waktu atau
setidaknya perhatian yang tulus, walau perhatian untuk mendengar keluh
kesahnya. Apabila tidak mampu, maka do'akanlah, dan percayalah bahwa
kebaikan sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh
Allah.

d. Sumbangan ilmu dan pengalaman
Jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki,
kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman yang ada pada diri kita bisa
menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain.

Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka,
kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan tersa nikmat, karena tidak
mengharapkan sesuatu dari orang melainkan kenikmatan kita adalah melakukan
sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah SWT.

Semoga Bermanfaat,
Jazakumullah Khairan Katsiraa

Menyingkap Misteri Perahu Nabi Nuh

(Erabaru.or.id) - Sebuah tim yang melibatkan ilmuwan dari Amerika dan Turki akan mengadakan penyelidikan terhadap misteri gunung Ararat pada Juli mendatang. Mereka akan mencari perahu Nabi Nuh.
Apakah kisah perahu besar Nabi Nuh yang tercatat dalam kitab suci merupakan peristiwa nyata atau mitos? Selama ini para ahli dan sarjana selalu berdebat, tidak sedikit yang beranggapan, bahwa hingga saat ini sisa-sisa peninggalan perahu Nabi Nuh masih tersimpan di puncak gunung Ararat Turki. Menurut laporan media cetak Amerika pada 26 April 2004, sebuah tim peneliti beranggotakan 10 orang yang dibentuk oleh petualang Amerika dan Turki akan mendekati puncak gunung yang misterius itu pada Juli tahun ini, untuk mencari jejak “perahu besar Nabi Nuh” (The Great Noah Ark).
Untuk menyingkap misteri perahu Nabi Nuh di pegunungan Ararat tersebut, tim gabungan ini akan mengirimkan penyelidik yang terampil. Diperkirakan mereka akan memasuki gunung Ararat pada 15 Juli 2004, dan akan menjalankan operasi penyelidikan yang berlangsung selama sebulan. Penanggung jawab tim tersebut yakni Daniel P. McGivern mengatakan, “Kami tidak akan menggali benda misterius itu, lebih-lebih tidak akan mengambil artefak apa pun, atau membuat sebuah perahu palsu di sana. Kami hanya akan mengambil gambar di sana, untuk diperlihatkan kepada kalian akan keadaan dan kondisi yang sebenarnya di sana.”
McGivern, pimpinan The Trinity Corporation of Honolulu, Hawaii mengatakan, bahwa sebelum mereka memasuki pegunungan Ararat, para anggota tim masih harus melakukan sejumlah besar persiapan kerja, seperti misalnya, mempelajari data-data yang berhubungan dengan ciri geografis dan bentuk permukaan bumi serta adat istiadat humanisme di daerah sekitar gunung Ararat. Menurutnya, problem terbesar yang dihadapi mereka saat ini adalah bagaimana mengadakan komunikasi dengan penduduk asli setempat. Karena gunung-gunung yang tinggi itu dianggap keramat oleh para penduduk asli setempat, dan mereka yakin akan eksistensi “Perahu Nabi Nuh”, oleh karena itu selama berabad-abad, mereka tidak pernah bersedia menceritakan tentang misteri yang berhubungan dengan gunung-gunung itu kepada orang luar.
Kalau mereka berhasil mendekati apa yang diduga sebagai struktur raksasa setinggi 45 kaki, lebar 75 kaki dan panjangnya sampai 450 kaki yang sempat tersingkap akibat gelombang panas dahsyat yang melanda Eropa pada musim panas yang baru lalu, itu berarti akan memperkuat dugaan sebelumnya. Sebagian besar anggota tim penyelidik mengatakan, bahwa bagi mereka yang memahami kitab Injil, jika keberadaan “Perahu Nabi Nuh” benar-benar terbukti, maka itu akan menjadi simbol legendaris sepanjang sejarah manusia, dan menjadi sebuah rekor perkembangan evolusi manusia. Seperti diketahui kisah Nabi Nuh dan perahunya yang selamat dalam banjir besar tercantum dalam Alkitab dan Al-Qur’an.
Penemuan Awal
Sebenarnya, pencarian terhadap perahu Nabi Nuh sudah cukup lama dilakukan. Setahun setelah terjadi gempa bumi dan letusan gunung berapi dahsyat pada 2 Mei 1883 yang telah memorak-porandakan kampung di kaki gunung Ararat, kerajaan Turki mengirim tim ekspedisi untuk melihat akibat yang ditimbulkannya. Kapten Gayscoyne, duta Inggris di Istambul, turut dalam ekspedisi itu. Saat itu mereka melihat “Perahu Nabi Nuh”.
Bukan itu saja, mereka juga dapat masuk dan mengukur perahu purba itu. Namun mereka tidak dapat mengukur dengan tepat dan lengkap karena sebagian darinya diselimuti es dan hanya 20 hingga 30 kaki saja yang menjulur keluar. Diketahui perahu itu dibuat dari balok kayu yang sudah tidak tumbuh lagi di bumi.
Menindaklanjuti temuan itu, pada 1917, Kaisar Rusia Tsar Nicholas II telah mengirim 150 orang pakar dari berbagai bidang dan tentara untuk mencari dan menyelidiki perahu Nabi Nuh. Setelah sebulan, tim ekspedisi itu baru sampai ke puncak Ararat. Segala kesukaran telah berhasil mereka lewati, dan akhirnya menemukan perahu Nuh tersebut. Dalam keadaan terkagum, mereka mengambil gambar sebanyak mungkin. Mereka mencoba mengukur panjang perahu Nuh dan didapati berukuran panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki, sebagian lainnya tenggelam di dalam salju.
Hasil dari perjalanan itu dibawa pulang dan mau diserahkan kepada Tsar, malangnya sebelum sempat melaporkan temuan itu ke tangan kaisar, Revolusi Bolshevik Komunis (1917) meletus. Laporan itu akhirnya jatuh ke tangan Jenderal Leon Trotsky. Sehingga sampai sekarang masih belum diketahui, apakah laporan itu masih disimpan atau dimusnahkan.
Pada 1949, pilot Rusia Lotskovitsky juga mengambil foto “Perahu Nabi Nuh”. Foto tersebut menunjukkan sebuah bintik gelap yang samar-samar tampak di bawah lapisan es yang tebal di puncak gunung, karena itu tidak sedikit ahli yang curiga bahwa itulah perahu Nabi Nuh.
Tahun 1957, beberapa pilot Angkatan Udara Turki sempat menyelidiki puncak Ararat, dan mendapati obyek di Provinsi Agri menunjukkan bentuk sebuah perahu. Namun, karena perang dingin Uni Soviet vs. AS, penemuan itu tidak ditindaklanjuti dengan alasan “mencegah mata-mata AS mendekat”, Uni Soviet melarang pesawat setiap negara memasuki di sekitar pegunungan Ararat. Larangan itu baru dicabut pada 1982, dan sejak itu berbagai tim ekspedisi mulai berdatangan lagi, namun tidak ada yang mampu membuktikan.
Ada juga cerita tragis pada 1960-an. Seorang pengusaha minyak menumpang helikopter di bagian utara gunung Ararat untuk urusan bisnis. Tiba-tiba ia terkejut melihat satu kotak besar yang panjang menyerupai perahu. Ia kemudian menyuruh pilotnya mendekati obyek itu untuk mengambil beberapa gambar. Dengan rasa bangga, ia memperlihatkan gambar-gambar yang telah diambilnya itu pada semua rekan-rekannya di Timur Tengah dan Amerika. Pada saat yang sama ia mencoba mencari bantuan dana untuk menjalankan ekspedisi mencari “Perahu Nabi Nuh”. Karena tidak mendapat dana, ia kecewa dan akhirnya pergi ke British Guyana membuka tambang minyak.
Pada 27 Desember 1962, pengusaha itu ditemukan mati dibunuh dengan keadaan tubuh terapung di kolam renang hotel. Dalam laporan pada polisi, seorang kawan baiknya mengatakan bahwa lemari tempat menyimpan semua foto “Perahu Nabi Nuh” telah digeledah orang 10 hari sebelum kejadian. Gambar perahu Nuh telah hilang. Kawan-kawan baik pengusaha itu mengaku bahwa mereka telah melihat foto hitam putih "Perahu Nabi Nuh" yang berukuran 8 x 10 inci. Dan tidak menolak kemungkinan ia dibunuh karena foto tersebut.
Baru kemudian pada 1995, analis gambar satelit Amerika Bolsey Taylor mulai memperhatikan obyek misterius yang disebut “keajaiban gunung Ararat” itu. Ia menghabiskan beberapa tahun lamanya, mengumpulkan sejumlah besar gambar dari satelit, dan mengklasifikasi foto satelit tersebut, akhirnya didapati, bahwa itu adalah sebuah benda raksasa yang panjangnya 180 meter. Namun, mereka juga tidak tahu persis benda apa sebenarnya, menurutnya bisa saja itu merupakan benteng kuno Turki, atau mungkin reruntuhan sebuah pesawat, dan kemungkinan juga itu adalah “Perahu Nabi Nuh”.
Hingga akhirnya Porcher Taylor, ahli satelit mata-mata, merasa terpanggil untuk ikut mencari kapal Nuh tersebut. Taylor adalah lulusan Akademi Militer West Point AS yang khusus sejak lama mendalami bidang satelit mata-mata. Sejak sembilan tahun lalu rupanya sudah mulai meneliti keanehan yang terjadi di sekitar gunung Ararat Turki ketika ia bertugas memata-matai negara-negara yang berbatasan dengan Uni Soviet .
Taylor sekarang bekerja sama dengan perusahaan satelit pengintai komersial Quick Bird, dan mulai lagi melakukan pemotretan di sekitar gunung Ararat. Sayangnya, foto yang diambil sekarang masih kurang detail karena dari beberapa pengambilan gambar di sekitar gunung tersebut terlalu mendung. Setidaknya usaha Taylor menjadi sebuah harapan besar umat manusia menemukan salah satu kebesaran Tuhan yang hilang.
Sekitar tiga tahun lalu, seperti ditulis G. Joseph, arkeolog Ron Wyatt dan David Fasold menyatakan telah menemukan pendaratan “Perahu Nabi Nuh”. Penemuan ini menyatakan juga bahwa jejak itu tidak berada di puncak Ararat tetapi sekitar 20 mil dari puncak Ararat, dekat sisi dari Turki dan Iran. Tetapi mereka percaya bahwa pasti benar apa yang dikatakan Alkitab bahwa bahtera Nuh mendarat di puncak Ararat. Pergeseran tanah selama ribuan tahun, gempa bumi, adanya gunung baru, dapat mengakibatkan bergesernya lokasi pendaratan tersebut dari puncak gunung Ararat ke posisi sekarang.
Lihat gambar berikut, adalah penandaan yang dilakukan oleh para arkelog. Karena dengan mata telanjang, tanda tersebut sama sekali tidak akan tampak. Penandaan tersebut diambil dari sebuah radar khusus untuk mengidentifikasikan struktur tanah yang membentuk suatu obyek. Pengukuran obyek yang ditandai mempunyai altitude 7.546 kaki. Panjangnya, 558 kaki, dan lebarnya 148 kaki. Ukuran tersebut hampir tepat seperti dalam Alkitab di mana Allah memerintahkan Nuh untuk membuat suatu perahu yang besar. Di sekitar obyek tersebut, juga ditemukan oleh Ron Wyatt sebuah batu besar dengan lubang pahatan.
Mereka percaya bahwa batu tersebut adalah “drogue-stones”, di mana pada zaman dahulu biasanya dipakai pada bagian belakang perahu besar untuk menstabilkan perahu. Radar dan peralatan mereka menemukan sesuatu yang tidak lazim pada level “iron oxide” atau seperti molekul baja. Struktur baja tersebut setelah dilakukan penelitian bahwa jenis “vessel” ini telah berumur lebih dari 100.000 tahun, dan terbukti bahwa struktur dibuat oleh tangan manusia. Mereka percaya bahwa itu adalah jejak pendaratan perahu Nuh.
Peninggalan prasejarah yang berharga itu bukan saja menarik minat para peneliti sejarah malah pihak intelijen seperti CIA/KGB pun pernah mencoba menyelidikinya. Pihak CIA telah menggunakan satelit dan pesawat Stealth untuk mengambil gambar obyek yang diduga perahu Nuh itu. Gambar-gambar itu telah menjadi “rahasia besar” dan disimpan rapi dengan penjagaan yang sangat ketat bersama dengan “rahasia-rahasia” penting lainnya di Pentagon.
(Diolah dari berbagai sumber)
Kesaksian tentang Perahu Nabi Nuh

(Erabaru.or.id) - Sudah cukup banyak orang atau tim ekspedisi yang menemukan “Perahu Nabi Nuh” di puncak gunung Ararat. Ada yang didokumentasi, ada yang tidak. Berikut adalah cerita beberapa di antara mereka:
Ed Davis
Ed Davis, adalah seorang sarjana sekaligus tentara berkebangsaan Amerika yang menetap di utara Iran, pada 1943. Ketika mendaki puncak gunung Ararat, seorang berbangsa Qurdish yang menjadi pemandu pasukannya berkata, “Ya, di situlah kampung halaman dan tempat di mana orang tua saya tinggal. Di mana di puncaknya terdapat ‘Perahu Nuh’. Dan paman saya tahu di mana letaknya perahu itu.” Davis terkejut dan berkata, “Benar? Bisa saya diantar ke sana?” Pemandu itu berjanji akan mengenalkan dengan pamannya.
Suatu hari, pemandu itu membawa pamannya menemui Davis dan mengenalkan, namanya Abbas. “Pada masa ini, ‘Perahu Nuh’ masih tidak kelihatan. Dan apabila tiba saatnya nanti saya akan datang menjemput Anda,” kata Abbas. Beberapa bulan kemudian Abbas datang menjemput saya, “Kita boleh pergi sekarang....” Davis tidak buang waktu dan inilah saat yang paling ditunggu.
Mereka berdelapan mulai mendaki Ararat. Saat rombongan mendaki ke atas, mereka berhenti sejenak di telaga Perigi Ya’kub untuk berdoa. Selanjutnya mendaki agak jauh melalui jalan pintas agar perjalanan kami menjadi lebih cepat. Setelah beberapa hari mendaki, Abbas menyuruh kami semua agar saling mengikatkan tali antara satu dengan yang lain. Mereka mempunyai peralatan mendaki yang baik dan sesuai. Entah dari mana mereka semua mendapatkan alat itu. Kami tidur di dalam gua yang terdapat lukisan-lukisan purba.
Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Pertama kali melihat “Perahu Nuh”, seolah-olah bagai sebongkah batu biru yang sangat besar. Semakin dekat barulah bentuknya semakin jelas. “Saya melihat bagian ujung bahtera itu sudah berlubang pecah mungkin bekas dikapak orang. Saya sungguh kagum dan sedikit kecewa karena tidak dapat menghampirinya. Hanya Tuhan saja yang tahu betapa ingin saya menyentuh dan berjalan-jalan di atasnya.” Abbas menerangkan bahwa perahu itu mempunyai kutukan. Ada sebagian orang yang telah terserang jantung dan mati di dalamnya.
Penjaga mengatakan mengenai “Perahu Nuh”, bahwa sejak turun temurun, Abbas tidak suka jika ada orang atau bangsa asing naik ke gunung itu untuk mencari atau meneliti “Perahu Nuh”. Dia bilang setiap orang yang naik ingin mengambil dan memecahkan bagian perahu untuk dibawa pulang. Sedangkan orang-orang Qurdish ini tidak mau perahu itu diotak-atik.
Sebenarnya sebagian dari barang-barang antik muatan “Perahu Nuh” telah diambil oleh nenek moyang Abbas sejak dulu. Saya sendiri melihat beberapa barang antik di rumahnya, seperti mangkuk besar setinggi 2 kaki setengah, tembikar, pinggan yang terbuat dari kulit kerang, piring pelita dan sebagainya. Mereka hanya mengizinkan Davis melihat saja. Abbas juga menerangkan, bahwa nenek moyangnya telah menemukan madu di dalam botol sewaktu ekspedisi bersama ilmuwan Turki. Dan sekarang madu itu telah dikirim ke Switzerland dan dinyatakan sebagai madu asli.

Ed Davis dan Ahmet Ali Arslan
Ahmet Ali Arslan
Ahmed Ali Arslan adalah pemimpin redaksi, koran Ahkbar, media berbahasa Turki di Washington DC. Ia pernah bekerja sebagai penyiar di stasiun radio Suara Amerika (VOA). Beliau juga seorang penasihat dan peneliti di Institut Sains dan International Technology Washington DC. “Keluarga saya berasal dari Aralik yang terletak di kaki gunung Ararat. Di situlah saya dibesarkan. Semenjak kecil saya telah naik ke gunung itu, mungkin sudah lebih dari 50 kali termasuk ekspedisi Navarra.”
Dia pernah mendampingi rombongan ekspedisi ilmuwan tahun 1989 untuk mencari kawasan jurang yang dikenal sebagai lembah Ahora di pinggir gunung itu. Lembah Ahora ini adalah satu lembah yang sangat curam dan bahaya. Oleh karena dia seorang warga negara Turki maka diberikan wewenang membuat strategi ke bagian-bagian tertentu di gunung Ararat, yang dikenal oleh satelit sebagai kawasan yang mungkin merupakan kawasan “Perahu Nuh”.
Sewaktu dia dekat dengan kawasan itu, lapisan es yang dipijaknya mulai bergerak dan ia tergelincir sejauh berpuluh-puluh kaki ke bawah jurang. Untunglah dia tidak terjatuh ke dalam lubang jurang. “Saat saya berdiri, di hadapan saya kira-kira 2.100 kaki, terlihat satu struktur bangunan yang terbuat dari kayu. Kira-kira beberapa ribu kaki dari puncak gunung. Cepat-cepat saya mengambil gambar. Saya yakin itulah ‘The Great Noah Ark’ yang menjadi pembicaraan banyak orang.”

Ronald Bennet
Ronald Bennet
Mr. Ronald Bennet adalah bekas wartawan dan juru foto Gedung Putih, tinggal di sebuah pelabuhan La Jolla, California US. Saat Presiden AS Jimmy Carter melawat ke Teheran, Iran dengan pesawat Air Force One, Ronald Bennet ikut dalam rombongan tersebut Rombongan bertolak dari Washington DC menuju Warsawa, Polandia pada 29 Desember 1977 dan kemudian ke Teheran pada 31 Desember 1977. Dalam perjalanan melintasi gunung Ararat, ia melihat sesuatu yang aneh.
“Saat peristiwa terjadi, kami dalam perjalanan dari Polandia menuju Teheran. Saat terbang di utara Turki, kami diminta memandang ke jendela. Pada saat yang bersamaan ada beberapa pesawat MIG Fulcrum USSR sedang mengiringi Air Force One yang kami tumpangi. Dari jendela tampak dengan jelas sebuah kotak panjang seperti perahu yang besar dan sebagian tertutup es."
Edward Behling
Tahun 1973 Edward Behling dari Amerika bergabung dengan tentara Angkatan Udara AS yang ditugaskan mengawal dan memberi perlindungan semasa kamp pembinaan tentara di Diaberker, sebelah tenggara gunung Ararat. Ia mempunyai kawan dari tentara Turki keturunan Qurdish yang bernama Mustafa. Behling dan Mustafa telah mendaki puncak Ararat pada bulan Mei 1973. Sebenarnya Mustafa sendiri pun sebelumnya tidak pernah melihat langsung “Perahu Nuh”. Dia berjanji membujuk pamannya yang juga bangsa Qurdish agar turut membawa dia melihat perahu tersebut. Meskipun awalnya keberatan, tapi akhirnya diantar juga asal tak membawa kamera.
Sang paman membawa mereka ke puncak Ararat. Behling merasakan seolah-olah sedang melalui sebuah lorong di celah-celah batu dan salju turun dengan amat lebat. Sang paman seolah-olah tahu dengan tepat semua jalan yang dilaluinya. Setelah beberapa lama berjalan menelusuri lorong batu dia merasa teramat letih dan berharap mereka akan berhenti untuk istirahat. Tiba-tiba Mustafa berpaling ke arah mereka dan menunjukkan sesuatu. Saya lihat di satu lembah 50 kaki ke bawah, terlihat sebuah benda hitam dan besar. Amat besar. Salju yang menutupi bagian atasnya telah mencair. Bagian depan perahu sudah pecah dan berlubang.
“Saya tidak melihat pintu satu pun. Dengan mata kepala sendiri, saya melihat benda sebesar itu terdampar di puncak gunung Ararat. Oleh karena kurangnya cahaya, lubang yang terdapat di perahu itu tidak terlihat dengan jelas. Perahu itu berwarna hitam. Tampak seperti satu kotak besar yang panjang. Saya hanya melihat 150-200 kaki saja, selebihnya badan perahu itu tertutup oleh salju. Saya lihat bagian ujung bahtera sudah dipecahkan. Ketebalan dinding kapal itu lebih kurang 18 inci.”
Paderi Kristian
Paderi Kristian adalah seorang pastor Harold William dari Logansport, Indiana AS. Ada seorang kawannya, yakni seorang imigran Muslim yang berbangsa Armenia bernama Haji Yearam. Menurut ceritanya, ia tinggal di kaki gunung Ararat. Menurut sejarah, mereka adalah keturunan orang yang keluar dari “Perahu Nuh” dan tidak hijrah ke mana-mana. Keturunan Haji Yearam senantiasa tinggal di kaki gunung Ararat itu. Beberapa ratus tahun setelah “banjir besar”, anak cucu keturunannya mendaki puncak Ararat untuk memberi penghormatan dan melihat “Perahu Nuh”. Saat itu masih ada jalan menuju ke perahu itu dan entah bagaimana jalan itu telah hilang musnah dan tidak dapat dijumpai lagi hingga kini. Mungkin karena perubahan cuaca, gempa bumi, dan lain sebagainya.
Sewaktu H. Yearam masih kecil, ada beberapa orang asing datang ke rumahnya. Mereka ini adalah orang yang tidak percaya kitab suci. Mereka adalah ilmuwan, yang sedang dalam perjalanan melakukan ekspedisi untuk membuktikan bahwa cerita “The Great Noah Ark” itu hanya dongeng semata. Mereka kemudian mengupah Yearam untuk menjadi pemandu mendaki puncak Ararat. Waktu itu musim panas dan salju yang menutupi sebagian puncak Ararat telah mencair.
Setelah dengan susah payah mendaki, akhirnya mereka pun tiba di puncak. Dengan jelas “Perahu Nuh” terlihat. Seluruh bagian luar dan dalam perahu diselimuti syellek atau lacker serta bahan pengilat yang kuat dan tebal. Tidak terlihat adanya jendela, hanya terdapat sebuah pintu besar namun daun pintunya sudah tidak ada lagi. Para ilmuwan marah. Mereka mencoba meraih kayu bahtera tersebut, membuat api unggun dengan tujuan untuk membakar dan memusnahkan perahu tersebut. Anehnya dengan keadaan kekurangan peralatan segala usaha mereka sia-sia. Apalagi keadaan perahu itu sendiri keras seperti batu. Kayunya tidak bisa terbakar langsun

Bab II - Teori dan Praktik Jurnalistik

I. Konsep Berita
Hal-hal mengapa peristiwa harus diberitakan:
- Aktualitas - Ketegangan dalam peristiwa
- Jarak peristiwa dari khalayak - Perilaku seks
- Penting tidaknya orang/ figur yang - Kemajuan-kemajuan yang
diberitakan diberitakan
- Keluarbiasaan - Emosi yang ditimbulkan
- Akibat yang ditimbulkan - Humor

Macam berita berdasarkan:
- Sifat kejadian: terduga (perayaan hari nasional), dan tidak terduga (kebakaran).
- Cakupan isi berita: politik, ekonomi, kebudayaan, pendidikan dll.
- Bentuk penyajian berita: langsung, komprehensif, feature.

Penulisan Berita
Ada sebuah rumus dalam menulis berita, bahwa berita itu harus menarik perhatian khalayak penonton, pendengar dan pembaca. Karena materi berita itu diperlukan atau gaya penulisannya yang menarik.
Selain logis, penggunaan istilah juga harus dihindari agar berita itu mudah dimengerti. Bila ada, maka harus diterjemahkan. Penggunaan kata harus ekonomis. Kata yang tidak perlu (berlebihan) sebaiknya dihindari. Jangan terlalu banyak kalimat, tidak juga terlalu pendek, kalimat tidak kurang dari delapan dan tidak lebih dari 20 kata. Hendaknya menggunakan kalimat aktif.

2. Berita Televisi
Terdiri atas:
1. Gambar: unsur pertama dalam berita tv, yang menjadi kekuatan berita tv, karena gambar ikut berbicara lebih dibanding naskah dan audio.
Unsur gambar:
a. Aktualitas: gambar yang aktual (baru)
b. Sinkronisasi: kesamaan antara gambar dengan naskah.
c. Simbolis: menyimbolkan gambar.
d. Ilustrasi: gambar yang dibuat atau rekayasa.
e. Dokumentasi:
1. Dokumentasi peristiwa: menayangkan kembali. Misalnya tragadi 1998.
2. Dokumentasi simbolis: simbol. Misalnya berita krisis ekonomi, dengan menampilkan tempat penukaran uang.
3. Dokumentasi foto: menampilkan foto. Misalnya berita tidak langsung, dilaporkan melalui telepon.
4. Dokumentasi profil: gambar tidak sesuai dengan kejadian karena belum ada gambar.
f. Estetika: keindahan, enak dipandang

2. Naskah: memenuhi unsur 5W+1H. Dari penyajiannya ada dua, reading (lead hingga tubuh dibaca presenter, dan voice over (lead dibaca presenter, tubunya didubbing.
Dari segi isi berita harus:
1. Bercerita tentang gambar yang diinformasikan: berita kebakaran dengan upaya pemadaman.
2. Resume: menjelaskan catatan penting saja.
3. Lebih pendek dari gambar: naskah haris lebih pendek dari gambar.
4. Jeda di antara gambar
5. Singkat, padat, jelas, dan menarik
6. Mengikuti ketentuan 5W+1H
7. Menjelaskan nama atau istilah asing yang berbeda antara tulisan dan pengucapannya.
8. Menerangkan singkatan yang belum populer.
9. Singkatan dibaca huruf demi huruf.
10. Jabatan ditulis di depan nama orang yang menjadi sumber berita.
11. Menghubungkan berita dengan letak geografis.
12. Menyebutkan jabatan yang paling sesuai dengan pernyataan nara sumber.
13. Semua tanda baca harus ditulis agar presenter dan dubber tidak salah baca.
14. Angka ada yang ditulis dengan angka, dan ada pula yang ditulis dengan huruf dengan tujuan menghindari kesalahan dalam membaca. Misal:
1. Angka nol sampai sebelas, kecuali angka 10, ditulis dengan huruf.
2. Angka 10 sampai 999, kecuali angka sebelas, ditulis dengan angka.
3. Angka di atas 999 ditulis dengan huruf dan angka. Misal:
1. 11.111 ditulis sebelas ribu 111 ditulis sebelas ribu 111
2. 111.111 ditulis seratus sebelas ribu 111.
3. 1. 111.111 ditulis satu juta seratus sebelas ribu 111.
15. Angka di awal kalimat harus ditulis dengan huruf.
16. Jika menyebut waktu selain Indonesia, harus menyebutkan waktu Indonesia (tempat disiarkannya berita).
17. Angka yang dipakai angka Arab bukan Romawi, karena makin tinggi akan sulit dibaca oleh banyak orang. Misalnya, jangan ditulis PON X, tetapi PON ke-10.
18. Berita ucapan, langsung dan tidak langsung.

3. Audio atau suara
a. Atmosfer: suasana suatu peristiwa dari gambar yang diberitakan. Misal: peristiwa perang maka suaranya ditampilkan.
b. Narasi: suara reporter, berdasarkan naskah yang dibaca maupun laporan tanpa naskah dan suara nara sumber yang diwawancarai.

3. Berita Radio
Radio bersifat langsung, maka setiap gagasan atau segala hal yang disiarkan bisa segera dan langsung dilakukan, tanpa harus menulisnya dengan baik seperti surat kabar, atu mengambil gambar pada berita tv. Seperti saat pembacaan teks proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
Karakteristik radio:
1. Segera dan cepat
2. Aktual dan faktual
3. Penting bagi masyarakat luas
4. Relevan dan berdampak luas.
Persyaratan radio:
1. Lokal emosional: berita menjadi alat komunikasi antarindividu pendengar dengan masyarakat sekitarnya.
2. Personal: Komunikasi berita radio berlangsung seperti seseorang yang sedang bercerita atau membicarakan sesuatu dengan temannya.
3. Selintas: Dapat didengarkan sambil melakukan aktivitas lain.
4. Fokus dan antidetail: meringkas data dan menghindari tuturan kalimat bermakna ganda. Ada pengulangan untuk memberikan kejelasan.
5. Imajenasi: pendengar menggambarkan sendiri berita yang diengar.
6. Flexibel:
1. Berita tulis, berita yang bersumber dari media lain atau ditulis ulang. Bisa juga liputan reporter yang teksnya diolah kembali di studio.
2. Berita bersisipan: berita disisipkan suara nara sumber.
3. Berita feature
4. Laporan melalui telepon.
5. Buletin berita: gabungan beberapa berita pendek disajikan dalam satu blok waktu.
6. Jurnalistik interaktif: keterlibatan khalayak.

Berita radio dibagi menjadi tiga:
1. Hard news: berita aktual yang baru terjadi.
2. Soft news: berita peristiwa rutin, seperti informasi pembangunan, budaya dll.
3. In-depth news:
Istilah lain dalam berita:
1. Spot news: berita pendek yang memberikan informasi kejadian secara cepat.
2. Stop press atau news break, berita yang disajikan setiap jam, setiap 15 menit.

Fungsi sisipan:
1. Sebagai penguat dan penajaman narasi.
2. Sebagai penjelas dan memperkaya informasi yang disampaikan.
Jenis siaran berita radio:
1. Langsung: reporter melaporkan berita secara langsung dari tempat kejadian tanpa proses penyuntingan.
2. Tunda: setelah berita diliput, kemudian naskah dibuat digabung dengan berita lain, barulah dilaporkan.

4. Lead Berita
Lead berarti “yang diatas”, “yang di depan”. Karena itu lead atau intro dalam berita ialah sebuah kalimat pertama sebuah berita yang dimaksudkan untuk menarik minat halayak mengikuti berita itu.
Lead harus mengungkapkan unsur terpenting dalam sebuah berita. Unsur terpenting itu berupa:
1. pelaku kejahatan
2. korban jiwa atau harta benda
3. kemajuan
4. baru
5. aneh
lead berita ada beberapa macam. Pada berita yang ditulis dengan cara piramida terbalik, lead ada dua macam:
1. formal lead yaitu lead yang mengandung semua unsur berita(5W+1H)
2. informal lead yaitu lead yang hanya mengandung sebagian unsur berita.
Unsur-unsur yang penting dalam suatu berita yang dicerminkan dengan konsep 5W+1H tidak harus ditumpuk semuanya dengan lead.
Syarat sebuah lead yaitu:
• dapat menjadi panduan kalimat berikutnya
• dapat memberigambaran isi keseluruhan berita
• berisi stu dansatu pengertian
• disusun secara pada-singkat, tepat dan jelas
• memiliki daya tarik, daya gerak, daya rangsang dan komunikatif
Pembuatan lead dalam gaya piramida terbalik selalu dimulai dari yang terpenting menuju yang kurang penting. Lead yang menekankan unsur berita atau lead who, lead when, lead where, lead what, lead why, dan lead how.
Lead dibedakan dari segi struktur atau gaya bahasa. Dari segi ini ada beberapa macam lead yaitu: lead kata penghubung. Lead infinitif, lead bersarat, lead substantif, lead kutipan, lead kontras, lead bertanya, lead deskriptif, lead stakkato, lead ringkasan, lead menuding langsung, lead parodi dan lead percakapan.
Ada beberapa jenis lead lagi ada kesamaannya dengan lead-lead diatas, tetapi menenkankkan aspek tertentu dalam suatu berita. Lead-lead itu adalah:
1. lead cartridge yaitu lead yang menekankan unsur ketegangan(lead stakato)
2. lead astonish yaitu lead yang menekankan kejutan atau lead stakato
3. lead suspended interest yaitu lead yang menggugah perhatian
4. lead nama yaitu lead yang menekankan orang terkenal

5. Laporan Komprehensif
Merupakan salah satu bentuk penulisan berita selain berita langsung dan feature. Laporan komprehensif disebut juga:
• Trend news, karena menyangkut kecendrungan suatu peristiwa
• In-depth news, karena penulisanya lebih mendalam dibandinkan berita langsung
• Investigative news, karena berita jenis ini biasanya digali sendiri oleh wartawa tanpa menunggu terjadinya peristiwa
• Interpretative reporting, karena penulisannya sering berupa penafsiran penulis sendiri (wartawan)
Laporan komprehensif dapat ditulis menggunakan gaya piramida terbalik dan kronologis, yaitu suatu gaya penulisan yang tidak memilah yang penting dan kurang penting, tetapi laporan diceritakan secara kronologis dari awal sampai akhir.
Menurut Wilbur Schramm, komunikasi di negara-negara sedang berkembang mmemiliki tiga peranan penting:
1. Komunikasi memberikan informasi yang dapat menumbuhkan kesadaran (awareness).
2. Komunikasi berperan menumbuhkan pengertian yang menjurus kepada tumbuhnya keperluan.
3. Komunikasi berperan dalam manjalankan fungsi penyuluhan


6. Penulisan Feature
Feature adalah suatu bentuk tulisan untuk memotret peristiwa kemanusiaan. Mc Kinney dari Denver Post berpendapat bahwa feature ialah suatu tulisan yang berada di luar tulisan yang bersifat berita langsung, dengan kata lain dapat mengabaikan unsur 5W+1H.
Dilihat dari isinya, feature tebagi beberapa macam diantaranya:
• human interest
• fakta sejarah
• tokoh atau sosok
• berkisah tentang perjalanan
• menjelaskan keahlian tertentu
• ilmiah
Karena feture berifat ringan maka penulisannya pun menggunakan jurnalisme sastra(literary journalism). Menurut Septiawan Santa Kurnia, pemakaian gaya penulisan fiksi untuk kepentingan dramatisasi laporan supaya memikat.
Apabila feature untuk dimuat di media cetak, maka strukturnya terdiri atas judul pembuka (lead), tubuh(body) dan penutup, di mana judul harus semenarik mungkin agar dapat menggugah pembaca untuk membacanya.
Judul tidak harus berkaitan dengan lead, tidak harus berupa kalimat lengkap(SPO), tidak perlu tegas menyiratkan maksud utama penulis atau menyamarkan makna(ambigu).
Tetapi apabila feature untuk media elektronik, judul tidak terlalu penting, dengan menggunakan komposisi pembuka, isi, dan penutup.
Seperti pada tulisan lain, feature punya tehnik pengembangan, tubuh/isi dengan karakteristik tertentu.
Dalam menyusun paragraf atau alenia ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan yaitu kesatuan(unity), hubungan(coherence) dan penekanan(emphasis).
Ketiga pokok perhatian itu merujuk pada kepiawaian penulis dalam menyusun tema pokok atau ide utama, memilih bahan penting dan mengemasnya sedemikian rupa serta menciptakan jembatan yang menghubungkan satu paragraf dengan paragraf lain secara lancar, enak dibaca, didengar dan/atau dilihat. Ahkirnya, feature diakhiri dengan kesimpulan dan penutup.
Dengan kreatifitas penulis mengunci tulisan dengan kesimpulan atau penutup yang menimbulkan kesan mendalam dan kuat di benak halayak serta menumbuhkan hasrat khalayak untuk terus mememakai gagasan yang diterima dari penulis.

7. Bahasa Jurnalistik
Bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan informasi. Penggunaan bahasa yang baik dan benar sangat menentukan sampainya informasiitu kepada khalayak secara jelas dan sebaliknya. Untuk itulah, dibuat ketentuan-ketentuan dalam bahasa jurnalistik, antara lain:
1. Pengggunaan kata harus ekonomis supaya berita bisa lebih pendek.
Contoh: mengadakan penelitian – meneliti.
Tetapi ketentuan ekonomisasi tidak berlaku pada idiom, karena ididom diperlukan dalam memperhalus bahasa dan supaya lebih menarik.
Contoh: berbesar hati (2 kata) – rela (1 kata)
2. Kalimat yag digunakan dalam menulis berita sebaiknyakalimat aktif dan bukan kalimat pasif.
Contoh: Pemerintah menaikkan harga minyak.
Tetapi kalimat pasif dapat digunakan jika ingin menonjolkan objek.
Contoh: Harga minyak dinaikkan.
3. Kalimat dalam bahasa jurnalistik, sebaiknya menggunakan kalimat tunggal. Tetapi kalau belum bisa menggambarkan suatu berita secara lengkap, maka boleh menggunakan kalimat majemuk. Contoh:
Saya belajar bahasa Inggris
Ali belajar bahasa Inggris
Saya dan Ali belajar bahasa Inggris
Panjang kalimat majemuk dibatasi , biasanya maksimal 20 kata, tetapi juga tidak boleh terlalu pendek, biasanya minimal 8 kata.
4. Ada baiknya menggunakan kata kerja (bersifat dinamis) dan sedikit kata benda (bersifat statis). Contoh:
Stabilitas politik saat ini berkembang mantap (kata yang digaris bawahi adalah kata kerja)
Perkembangan politik saat ini mantap (kata yang digaris bawahi adalah kata benda)
5. Kalimat yang dipakai sebaiknya kalimat positif (menggambarkan keadaan yang aktif)dan bukan kalimat negatif (menggambarkan keadaan pasif).
Contoh kalimat positif:
Pimpinan DPR menyatakan bahwa merekasetuju langkah pemerintah membuat Perppu Anti - Terorisme .
Contoh kalimat negatif:
Pimpinan DPR menyatakan bahwa mereka tidak menentang langkah pemerintah membuat Perppu Anti – Terorisme.

6. Hendaknya tidak menggunakan kalimat yang tidak jelas.
7. Hindari kata-kata yang mengandung arti ganda, seperti kejahatan, bisa berarti pembunuhan, pancurian, dan lain-lain.
8. Penggunaan kata sifat sebaiknya dipakai seperlunya.
9. Kalimat bahasa jurnalistik hendaknya tidak menggunakan istilah-istilah asing yang kurang dikenal oleh khalayak. Kalaupun ya, maka harus dengan terjemahnya atau diberi pengertian.
10. Kalimat bahasa jurnalistik harus langsung kepada sasaran dan tidak berbelit-belit.
11. Kalau berita itu untuk televisi, maka harus dihindari kalimat terbalik (inverted sentence). Kalimat terbalik biasanya dipakai untuk surat kabar.
12. Dalam bahasa jurnalistik hendaknya diusahakan pokok kalimat dan sebutannya berdekatan letaknya (tersusun letaknya menurut hukum DM dalam bahasa Indonesia).
13. Mata uang asing, ukuran, timbangan dan takaran negara lain harus dicari persamaannya dengan apa yang berlaku di Indonesia atau lagsung denan persamaannya dalam pengertian Indonesia.
14. Benda-benda atau kata-kata asing yang terpaksa digunakan dalam berita sebaiknya diberi sedikit penjelasan supaya khalayak tidak perlu mencari penjelasan dalam kamus, buku pintar atau ensiklopedi.
15. Karya jurnalistik sekarang tidak hanya mengungkap fakta, tetapi lebih dari itu menunjukkan gejala dan perspektif, karena ia merupakan bagian dari strategi dalam pembentukkan lingkungan sosial yang lebih berharkat. Yang menjadi ciri jurnalistik yang tetap terpelihaara adalah materi yang disampaikan, yaitu tetap berupa fakta. Sifat faktual dari bahan baku inilah yang membedakannya dengan karya sastra murni yang bahan bakunya fiksi atau rekaan imajinatif. Ini kemudian disebut jurnalisme sastra (literary journalism). Jurnalisme satra merupakan salah satu bentuk jurnalistik baru.

8.Wawancara dan Dialog
Ada persamaan dan perbedaan antara wawancara dan dialog. Persamaannya ialah bahwa wawancara dan dialog selalu terdiri atas orang yang mewawancarai atau pewawancara atau moderator atau host dan orang yang diwawancarai atau nara sumber.
Perbedaannya, pada wawancara, wartawan yang mewawancarai hanya mengajukan pertanyaan kepada narasumber dan nara sumber berfungsi menjawab pertanyaan. Sementara pada dialog pewawancara tidak selalu hanya bertanya, tetapi bertukar argument dengan orang yang diwawancaraiuntuk sepakat, saling memerkuat argument atau berbeda pendapat.
Dilihat dari segi materinya wawancara itu ada empat macam:
1. Wawancara profil, yaitu wawancara dengan seseorang untuk menggali riwayat hidupnya, seperti suka duka hidupnya, hobinya, prestasinya, kehidupan keluarganya, cita-citanya, kiatnya mencapai sukses, dan lain-lain.
2. Wawancara konfirmasi, yaitu wawancara untuk mengonfirmasi suatu kejadian atau rencana yang menjadi wewenang seseorang yang memiliki kedudukan yang penting. Ini biasanya wawancara dengan pejabat, pengusaha, pimpinan partai politik untuk mengonfirmasi tindakanya. Jenis wawancara informasi, karena sifatnya meminta keterangan tentang sesuatu hal yang perlu diketahui oleh masyarakat dan hal itu di angani oleh seseorang atau suatu lembaga.
3. Wawncara pendapat, yaitu wawancara yang bermaksud meminta pendapat dari orang yang kompeten mengenai suatu masalah yang sedang berkembang dalam masyarakat. Wawancara seperti ini biasaya menampilkan pengamat, peneliti, tokoh agama dan orang-orang kompeten yang diduga mengetahui dengan masalah yang dibahas.
4. Wawancara Vox Pops, yaitu wawancara terhadap masyarakat (lebih dari satu orang) tentang suatu masalah. Wawancara ini biasanya dilakukan untuk mengetahui reaksi masyarakat luas terhadap suatu masalah, seperti reaksi masyarakat terhadap kenaikan harga BBM.
Kemudian dilihat dari segi penyajian wawancara itu ada tiga macam, yaitu
1. Wawancara aktualitas, yaitu petikan wawancara untuk mendukung suatu berita yang akual. Cuplikan wawancara ini biasanya ditampilkan sebagai penegas yang mendukung suatu berita yang ditayangkan.
2. Wawancara berita, yaitu wawancara dalam waktu singkat yang merupakan sebuah berita actual. Biasanya wawancara ini membahas sebuah persoalan secara singkat.
3. Wawancara program, yaitu wawancara dalam waktu yang panjang dan dalam perbincangan itu dapat dibahas secara tuntas permasalahan yang diangkat. Wawancara jenis ini biasanya juga disebut talk show.
Kemudian dilihat dari segi teknis wawancara dapat dibagi enam:
1. Wawancara eksklusif, yaitu wawancara berdasarkan perjanjian atau kesepakatan bersama antara wartawan dengan nara sumber.
2. Wawancara spontan, yaitu wawancara yang berlangsung secara kebetulan tanpa perjanjian atau kesepakatan antara wartawan dengan nara sumber sebelumnya.
3. Wawancara jalanan/keliling, yaitu wawancara dengan berbagai nara sumber secara terpisah tentang suatu masalah. Misalnya ada peristiwa kecelakaan dalam lomba balap motor. wartawan mewawancarai saksi mata, korban, dokter, pengawas sirkuit dan sebagainya tentang peristiwa kecelakaan itu.
4. Wawancara lansung, yaitu wawancara yang langsung disiarkan saat itu juga.
5. Wawancara konferensi pers, yaitu wawancara yang terjadi atas inisiatif nara sumber untuk menjelaskan sebuah peristiwa atau persoalan tertentu.
6. Wawancara jarak jauh, yaitu wawancara antar wartawan di sebuah tempat dengan nara sumber berada di tempat yang lain. Wawancara ini misalnya melalui telepon.
Kemudian di masa Orde Baru ada satu jenis wawancara lagi yang disebut “pinjam mulut”, yaitu wawancara dengan seseorang yang harus bicara karena abatannya atau kedudukannya, tetapi tidak mempunyai penegtahuan yang tidak memadai untuk menjelaskan tanggung jawabnya, karena menjadi pejabat atau mendapatkan kedudukan berkat hubungan baik dia dengan orang kuat yang mengangkatnya. Karena sulit bicara, maka pewawancara, yang biasanya wartawan, menjelaskan masalah yang hendak ditanyakan, lalu oaring itu berkata: “tulislah seperti itu sebagai ucapan saya.”
Selain itu ada lagi yang disebut wawancara melingkar, yaitu wawancara dengan orang-orang di sekitar orang yang hendak kita beritakan, tetapi yang bersangkutan tidak dapat di wawancarai, karena berbagai alasan, padahal kita sangat berkepentingan untuk memberitakannya. Orang seperti itu masih dapat kita beritakan dengan mewawancarai orang-oarng disekitar, seperti keluarganya, kawan-kawannya, orang-orangdisekitarnya dan lain-lain.

9. Kode Etik Jurnalistik
Merupakan himpunan etika profesi kewartawanan yang dimiliki oleh masing-masing media, dengan ideologinya masing-masing yang bersepakat dalam kata “jujur dan berimbang.” Yang paling awal membuat kode etik kewartawanan di Indonesia adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dalam kode etik itu sendiri terdiri dari beberapa bab dan pasal. Saat ini ada sekitar 31 organisasi wartawan, antara lain:
a. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
b. Aliansi Jurnalitik Indonesia (ALJI)
c. Asosiasi Wartawan Muslim (AWAM) Indonesia, dan lain-lain.

10. Teknik Penulisan artikel
Artikel ialah karya tulis yang di tempatkan dalam halaman opini dalam media cetak seperti surat kabar dan majalah. Artikel bisa berupa karya jurnalistik dan karya ilmiah, bias dikatakan arikel jika karya tulis tersebut berada di halaman artikel atau surat kabar.
Teknik prnulisan artikel:
1. Populer
2. Ringan, dan
3. Mudah dipahami oleh semua kalangan.
Seperti halnya karya jurnalistik, artikel jug terbagi atas tiga bagian:
1 Pendahuluan, berisi rumusan masalah. Dari masalah itu kemudian ditentukan topic yang lebih spesifik.
2. Tubuh artikel yang berisi uraian tentang sebuah masalah yang ditulis dalam artikel itu.
Tubuh artikel dapa dituis dengan berbagai cara dan pendekatan:
1. Berupa uraian tentang latar belakang suatu masalah. Misalnya bila membahas banyaknya orang sekarang menghadiri pengajian tasawugf, dapat dijelaskan dengan mengemukakan latar belakang umat Islam sekarang ini.
2. Dapat dijelaskan dengan cara mengemukakan tinjauan histories. Yaitu membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan dahulu.. Misalnya, menjelaskan bahwa di masa lalu tidak banyak pengajian tasawuf, tetapi sekarang banyak. Tinjauan histories kemudian dilanjutkan dengan mmbuat prediksi ke depan. Misalnya, memprediki bahwa pengajian tasawuf nanti makin berkembang sehingga makin banyak pengajian tasawuf.
3. Dijelaskan dengan mengemukakan teori-teori yang relefan dengan masalah yang ditulis. Misalnya, bila membahas tasawuf dapat dijelaskan dengan teori psikologi, yakni bahwa berdasarkan teori psikologi dapat dikatakan bahwa manusia modern sekarang sedang menglami krisis kejiwaan. Untuk mencari jawaban tersebut, maka mereka mendatangi pengajian-pengajian tasawuf untuk membahsa masalah kejiwaan.

Dengan demikian, penulisan artikel pada akhirnya tidak ditentukan tekhniknya, tetapi lebih pada penguasaan masalah. Masalah yang ditulis akan dikuasai jika banyak membaca, karena suber tulisan terutama berasal dari bacaan, yang kemudian digabung dengan pengalaman empiris.

11. Kebijakan Redaksi
Media/ berita bukan terbit begitu saja, tapi ada usaha konstruksi dari meja redaksi tersebut. Contoh kasus, koran Tempo yang mengangkat headline Aulia Pohan sebagai tersangka dalam kasus korupsi. Kebijakan redaksi dalam hal seperti ini menentukkan berita yang akan terbit.
Study kasus majalah Forum dan Panji Masyarakat:
Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh Gus Dur kepada Aryanti:
Forum Panji Masyarakat
- Gus Dur bukan tersangka - Gus Dur sebagai tersangka
- Aryanti sebagai penyebab - Aryanti bukan tersangka
- dilihat dari aspek hukum - dilihat dari aspek moral

Pertanyaan:
Bagaimana cara membedakan antara lead dan isi berita pada radio?
Biasanya seperti dalam media audio visual (TV) dan dalam media audio (Radio), lead berita dapat diketahui melalui beberapa cara, antara lain:
• Dari segi vokal
Biasanya vokal pada lead terdengar jelas, bulat, pendek, dan tegas.
• Adanya jeda yang cukup panjang/ lama
• Terjadi perbedaan secara teknis audio antara Anchor dan Voice Over
• Biasanya voice over dalam audio ada suara back sound atau athmosphere berita.

Produksi Pemberitaan

1. Apa fungsi dan job description bagian produksi pemberitaan?
▪ Produser: penanggung jawab atau pemegang suatu pengasuh program. Ia bagaikan tangan kanan dan tangan kiri bersama Director untuk menjadikan suatu produksi yang baik.
▪ Field Producer: Bertanggung jawab menjadikan suatu peristiwa itu layak atau tidak diberitakan.
▪ Redaktur Pelaksana: Orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan suatu berita.
▪ Reporter: Seorang wartawan aktif yang bertugas mengumpulkan berita-berita dari berbagai sumber, menyusun masing-masing laporan, terkadang menulisnya dan kemudian melaporkannya melalui stasiun televisi yang bersangkutan.
▪ Presenter berita: Orang yang membawakan atau mengantarkan acara berita di televisi dan radio. Secara internasional, dikenal dengan tiga kategori serta perbedaan peran antara ketiganya, yakni:
- Pembaca berita (newsreader) adalah pembawa acara yang berperan membacakan berita. Dalam dunia modern, teknologi memungkinkan para jurnalis melakukan siaran langsung dari lokasi kejadian, sehingga mengurangi peran utama sang pembaca berita.
- Penyiar berita (newscaster) adalah orang yang menyiarkan program berita dan ia juga bekerja sebagai jurnalis dan ikut dalam peliputan berita atau produksi berita, yakni aktif ikut serta dalam membuat naskah berita yang akan dibacakannya. Istilah ini diperkenalkan di tahun 1980an untuk membedakan jurnalis aktif dari pembaca berita, jenis presnter berita sebelumnya.
- Jangkar berita (anchor) adalah jurnalis televisi atau radio yang membawakan materi berita dan sering terlibat memberikan improvisasi komentar dalam siaran langsung dan juga sebagai pemenggang kendali. Istilah ini utamanya dipakai di Amerika Serikat dan Kanada. Banyak news anchor terlibat dalam penulisan dan atau penyuntingan berita bagi program mereka sendiri. Mereka juga bertugas mewawancara narasumber di studio atau memandu program diskusi, dan juga menjadi komentator dalam berbagai program berita. Istilah anchor (juga anchorperson, anchorman, atau anchorwoman) diperkenalkan oleh produser CBS News Don Hewitt. CBS pertama kali memakainya pada 7 Juli 1952 untuk menjelaskan peran penyiar Walter Cronkite pada saat Konvensi Nasional Partai Demokrat dan Partai Republik. Anchor juga menjadi figur media dan sering dianggap sebagai selebriti. Stasiun televisi biasanya membutuhkan figur media ini untuk mempromosikan produk siaran seperti program (berita pagi, majalah berita televisi) dan juga promosi program lain di samping iklan. Kritikus memandang anchor menjadi titik lemah pemberitaan, karena terkadang mengurangi kredibilitas organisasi berita itu sendiri. Jadi menggerus standar jurnalistik melalui peran bisnis mereka.
▪ Kameramen: Orang yang mengabadikan peristiwa, biasanya mencatat daftar gambar (shot list) terhadap shot gambar yang sudah direkam untuk memudahkan penyuntingan berita.
▪ Audiomen: Bertugas mengatur penyuaraan dalam proses siaran.
▪ Editor: Orang yang bertanggung jawab pada semua bagian di bidang pemberitaan, memutuskan kebijakan umum yang berkaitan dengan editorial dan memproyekskan dalam jangka panjang. Editor juga bertanggung jawab terhadap tampilan acara berita, seprti penampilan background penyiar berita, pemilihan penyiar berita, dan lain-lain.
▪ Lightingman: Orang yang mengatur bagian lampu (pencahayaan), sehingga siaran yang tampil dapat terlihat lebih baik.
▪ Script Writer: Penulis naskah berita.
▪ Production Director: Orang yang bertanggung jawab dan mengatur dalam produksi siaran.
▪ Pemimpin Redaksi: Orang yang menentukan seorang reporter dalam meliput suatu berita.
▪ Wakil Pemimpin Redaksi: Orang kedua yang bertanggung jawab setelah pimpinan redaksi atau dapat dikatakan sebagai pengganti pimred sementara.
▪ Unit Manajer: Bertanggung jawab terhadap kru.
▪ Floor Director: Orang yang bertugas mengatur di lapangan (tangan kanan director)
▪ Koordinator Liputan: Orang yang bertanggung jawab menentukan dan mengawasi kinerja reporter.
▪ Grafis: Orang yang bertugas dalam pembuatan grafis atau penayangan dalam suatu produksi siaran berita.
▪ Dubber: Pengisi suara yang mengabarkan peristiwa saat berita yang secara visual disiarkan.
▪ Perlengkapan: Orang yang mengatur segala perlengkapan mulai dari proses siaran berita hingga selesai.
▪ Wardrobe: sering disebut juga penata asesoris. Tugasnya juga tidak berbeda jauh dengan tata rias, yaitu menampilakan karakter penyiar di layar kaca.
▪ Tata rias: bertugas megurusi tata rias para penyiar berita. Di sinilah tugas menampilkan karakter penyiar.
▪ Office Boy: Karyawan yang bekerja menyiapkan kebutuhan logistik para kru pemberitaan..
▪ Pengarah Acara: Orang yang bertugas mengarahkan acara dan mengarahkan Switcher, bertanggung jawab setelah semua materi siap, dan menyusun rundown masing-masing berita.
▪ Teknisi: Orang-orang yang bertanggung jawab dalam masalah-masalah yang timbul dalam proses pemberitaan itu sendiri.

2. Yang saya dapatkan dari buku Jurnalistik Baru bab.1 adalah:

Sikap Dasar Wartawan
Mengenai sikap dasar wartawan, adalah sikap yang mendasari dan memotivasi wartawan dalam bekerja. Tanpa sikap dan motivasi yang memadai, wartawan tidak akan mencapai tujuannya. Sikap dasar terkait erat dengan pekerjaan dan fungsi wartawan sebagai penyebar informasi kepada khalayak.
Karena itu wartawan harus memiliki sikap dasar wartawan terlebih dahulu, yaitu:
• Rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi kepada informasi yang selalu mendorong untuk menggali informasi yang ingin diberitakan
• Menggali informasi yang seluas-luasnya mengenai kasus yang akan diberitakan dengan cara membiasakan diri mengikuti berita di berbagai media massa.
• Tidak hanya mengandalkan satu sumber berita, karen akan menyebabkan suatu berita menjadi tidak berimbang
• Menggali informasi secara komprehensi dengan menanyai berbagai pihak, sehingga tercipta informasi yang objektif dan mendekati kebenaran.
Liputan komprehensi itu memerlukan kesabaran, konsistensi, dan kesopanan. Kesabaran agar tidak mudah mengeluh, konsistensi agar kerja keras terus-menerus dan kesopanan menjaga diri agar tidak membuat sumber berita tersinggung
• Mengerjakan hal yang biasa dengan cara yang luar biasa.
Sejalan dengan asumsi tersebut, Thedore M. Barnstein dari New York Times berkata: “Wartawan yang besar akan kelihatan dari kecakapanya, perasaan tanggung jawabnya serta semangatnya yang tak pernah menyerah untuk mengemukakan kebenaran”. Pekerjaan jurnalistik adalah mencari kebenaran.
Jadi, dalam meliput seorang wartawan tidak semata-mata bekerja untuk dirinya, melainkan untuk tujuan yang lebih besar, katakanlah untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik di masa depan. Dan inilah sikap dasar wartawan yang hendak kita tuju.

Waratawan Era Reformasi
Era reformasi saat ini telah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menampakkan eksistensinya di bidang kehidupan, seperti agama, politik, dan bisnis. Hal ini juga menciptakan banyak perusahaan media massa yang membutuhkan banyak wartawan, sehingga menjadikan uang sebagai tujuan utama pada masa sekarang ini dan menimbulkan pertanyaan tentang profil wartawan Indonesia yang ideal.
Seharusnya wartawan itu harus netral, mandiri, objektif dan hanya berpegang kepada kebenaran. Sulit di masa sekarang, dimana semua bisnis media massa saat ini kebanyakan memihak kepada golongan tertentu karena modal yang ditanamkannya. Karena itu, menjadi wartawan ideal atau wartawan yang mengutamakan uang bisa ditentukan dari motivasinya, apakah semata hanya mencari uang ataukah menyiarkan hal-hal yang dia yakini benar atau meluruskan informasi yang menyimpang dari keadaan yang sesungguhnya dengan cara penyajian yang benar dan komprehensif.
Dengan demikian, jurnalistik bisa dibedakan menjadi jurnalistik baru yang bersifat multilinier/banyak arah atau jurnalistik lama yang bersifat satu arah atau linier. Dan kebanyak khalayak saat ini tertarik kepada jurnalistik baru, karena lebih komprehensif dan penuh dengan perspektif, seperti perspektif sosiologis, histories dan sebagainya. Namun untuk melakukan [enyajian informasi yang komprehensif harus ditunjang oleh dokumentasi atau perpustakaan yang memadai.
Karena itu, dapat disimpulkan bahwa wartawan pada era reformasi ini idealnya bekerja tanpa lelah mencari informasi di lapangan dan melengkapinya dengan bahan bacaan yang tersedia sehingga informasi yang disiarkan bersifat komprehensif, dan informasinya berupa fkata tanpa dipengaruhi oleh dorongan dari luar baik uang, afiliasi agama, politik dan bisnis.

Kebebasan dan Profesionalisme Pers
Konsep kebebasan pers muncul sebagai reaksi terhadap pers otoriter yang bekembang sebelumnya.karena pers otoriter dianggap tidak demokratis dan tidak relavan dengan gagagsan kebebasan individu. Kalau dalam pers otoriter pers dianggap sebagai pelayan negara, maka pers bebas diperlakukan sebagai mitra dalam mencari kebenaran. Kemudian dalam pers otoriter itu pers dikuasai penguasa, sedangkan sistem pers bebas, pers dikuasai oleh pengusaha.
Tapi dalam perkembangannya pers itu menimbulkan kekhawatiran yang lalu mendorong lahirnya suatu gagasan dan teori pers tanggung jawab sosial. Teori pers tanggung jawab sosial berpendapat bahwa orang yang menguasai media massa harus bertanggung jawab kepada masyarakat. Dan ini dijalankan di Indoneisa sejak pemerintahan Orde Baru, yaitu pers tanggung jawab sosial adalah pers yang menjalankan fungsi sebagai penyebar informasi yang objektif, menyalurkan aspirasi rakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat. Tetapi dalam penegakkan kebebasan pers tidak mudah. Di Indonesia sendiri selalu mengahadapi masalah dan tantangan
Oleh karena itu, untuk menghadapi tekanan dan ancaman itu, pers harus berpegang pada profesionalisme dan idealisme. Profesionalisme agar pers dapat meliput suatu peristiwa secara akurat, tepat dan berimbang. Dan idealisme dimaksudkan agar pers selalu berorientasi pada nilai-nilai yang menunjang kebersamaan, seperti kejujuran, kebenaran, keadilan dan demokrasi.

Teknik Penulisan artikel

Artikel ialah karya tulis yang di tempatkan dalam halaman opini dalam media cetak seperti surat kabar dan majalah. Artikel bisa berupa karya jurnalistik dan karya ilmiah, bias dikatakan arikel jika karya tulis tersebut berada di halaman artikel atau surat kabar.
Teknik prnulisan artikel:
1. Populer
2. Ringan, dan
3. Mudah dipahami oleh semua kalangan.
Seperti halnya karya jurnalistik, artikel jug terbagi atas tiga bagian:
1 Pendahuluan, berisi rumusan masalah. Dari masalah itu kemudian ditentukan topic yang lebih spesifik.
2. Tubuh artikel yang berisi uraian tentang sebuah masalah yang ditulis dalam artikel itu.
Tubuh artikel dapa dituis dengan berbagai cara dan pendekatan:
1. Berupa uraian tentang latar belakang suatu masalah. Misalnya bila membahas banyaknya orang sekarang menghadiri pengajian tasawugf, dapat dijelaskan dengan mengemukakan latar belakang umat Islam sekarang ini.
2. Dapat dijelaskan dengan cara mengemukakan tinjauan histories. Yaitu membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan dahulu.. Misalnya, menjelaskan bahwa di masa lalu tidak banyak pengajian tasawuf, tetapi sekarang banyak. Tinjauan histories kemudian dilanjutkan dengan mmbuat prediksi ke depan. Misalnya, memprediki bahwa pengajian tasawuf nanti makin berkembang sehingga makin banyak pengajian tasawuf.
3. Dijelaskan dengan mengemukakan teori-teori yang relefan dengan masalah yang ditulis. Misalnya, bila membahas tasawuf dapat dijelaskan dengan teori psikologi, yakni bahwa berdasarkan teori psikologi dapat dikatakan bahwa manusia modern sekarang sedang menglami krisis kejiwaan. Untuk mencari jawaban tersebut, maka mereka mendatangi pengajian-pengajian tasawuf untuk membahsa masalah kejiwaan.

Dengan demikian, penulisan artikel pada akhirnya tidak ditentukan tekhniknya, tetapi lebih pada penguasaan masalah. Masalah yang ditulis akan dikuasai jika banyak membaca, karena suber tulisan terutama berasal dari bacaan, yang kemudian digabung dengan pengalaman empiris.

Rabu, 10 Juni 2009

Fungsi-fungsi Komunikasi Antarbudaya

Salah satu masalah dalam komunikasi antarbudaya interaksi antara orang baru dengan orang asing. Secara umum ada empat kategori fungsi utama komunikasi, yaitu:

1. Fungsi informasi

2. Fungsi instruksi

3. Persuasif

4. Fungsi menghibur

Namun jika diperluas, maka ada dua tambahan lagi, yaitu:

1. Fungsi pribadi

2. Fungsi sosial

Fungsi-fungsi pribadi dan sosial dari komunikasi

Fungsi pribadi : fungsi-fungsi komunikasi yang ditujukan melalui pelaku komunikasi yang bersumber dari individu

l Identitas sosial

l Integrasi sosial

l Kognitif

l Melepaskan diri/ jalan keluar

1. Identitas Sosial :

- Bahasa

- Makanan : Orang Cina memunyai kebiasaan makan bubur pada pagi dan sore hari (meskipun orang kaya).

- Pakaian

- Akademik : Mayoritas orang akan bertanya gelar akdemik, universitas, dan di negara apa kita menuntut ilmu. Jika kita menjawab (Amerika), maka secara otomatis orang akan langsung berpikir bahwa kita merupakan orang yang jenius dan maju. Hal ini karena budaya akademi yang di Amerika sangat berbeda.

2. Integrasi Sosial

Suku Amish (suku asli Amerika) sulit menerima pembaharuan/ modernitas yang menurut mereka asing dan aneh.

Netralitas bahasa sering digunakan oleh media. Seperti contoh: sebutan/ label “manusia perahu” yang bermakna negatif 'berlayar masuk ke negara orang lain secara ilegal'. Begitu pula dengan Vietnam yang terkena imbasnya.

Media juga sering kali membuat bahasa yang tidak netral antar satu dengan yang lainnya.

Contoh : kata 'pemberontak' sering diidentikkan di Timor Leste

kata 'teroris' sering diidentikkan dan dikaitkan dengan Islam

Penciptaan bahasa di media juga tergantung dengan struktur sosial seseorang.

3. Menambah Pengetahuan

Tradisi di setiap daerah berbeda-beda. Contohnya seperti cara mengasini ikan.

Beberapa komponen/ cara untuk menghindari konflik antar budaya adalah:

l The enviromental

l The culture

l Attitude

l Habit

Fungsi sosial

l Pengawasan

l Menjebatani

l Sosialisasi

l Menghibur

Proses Komunikasi Antarbudaya

Proses komunikasi antarbudaya merupakan tukar-menukar pikiran antar komunikator dan komunikan yang berbeda budaya. Pada hakikatnya proses komunikasi antarbudaya sama dengan komunikasi pada umumnya yang mengandung interaktif (komunikasi berlangsung di permukaan), transaksional (lebih mendalam dengan melibatkan emosional), dan dinamis (selalu mengalami perubahan sesuai situasi yang berlangsung).

Unsur-unsur dalam proses komunikasi antarbudaya, yaitu:

1. Komunikator
2. Komunikan

c. Pesan /simbol (tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga dapat melalui isyarat, sms, film, dan lain-lain).

4. Saluran (melalui media cetak, elektronik, dan lain-lain).
5. Efek / umpan balik (terpengaruh dan kemudian melakukan tindakan).

f. Suasana (meliputi ruang, waktu, serta suasana sosial dan psikologis ketika komunikasi berlangsung).

g. Gangguan (segala sesuatu yang menghambat proses komunikasi).

Mengukur keberhasilan dari komunikasi antarbudaya antara lain;

· Efek → berpengaruh pada psikologis

· Umpan balik → menghasilkan tindakan

Sebuah persepsi dapat membenarkan sebuah noise, jika persepsi dan makna berbeda. Contoh: Jangan (dalam bahasa Jawa) berarti sayur

Jangan (dalam bahasa Indonesia) berarti tidak boleh











Tiga tujuan utama dalam komunikasi:

1. To do what you want

2. Not to do you do not want

3. To information

Suatu saat tidak mustahil akan terjadi pengerucutan budaya menjadi terpusat, karena adanya globalisasi bahasa, perilaku, dan lain-lain. Bahkan asal-usul terjadinya diaspora community (bertebarannya etnik / ras) di berbagai belahan dunia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain;

· Perdagangan antar negara / benua yang mengharuskan para pedagangnya untuk menetap sehingga terjadi kawin silang,

· Peperangan yang menyebabkan sebagian penduduknya mencari perlindungan / suaka politik ke negara lain.



Perbedaan antara komunikasi antarbudaya dengan komunikasi internasional

Komnikasi antarbudaya


Komunikasi internasional

· Person to person

· Transaksi dan pertukaran budaya tidak ada kesepakatan

· Merupakan salah satu kajian dalam komunikasi internasional


· Nation to nation

· Ada kesepakatan (melibatkan dunia internasional)

· Tidak hanya terpaku pada instansi-instansi terkait saja tetapi juga media